“Teknologi bisa menyajikan data, tapi rasa aman, intuisi, dan keyakinan pembeli tetap lahir dari interaksi manusia"
Di tengah derasnya arus informasi properti digital, membeli rumah justru sering menjadi lebih kompleks. Menurut Ir. Gatot Saharso, MM, Member Broker Century 21 Prima Group, tantangan terbesar dalam transaksi properti saat ini bukan terletak pada produknya, melainkan pada kualitas informasi dan kepercayaan pembeli. “Dalam transaksi properti, yang paling sering gagal bukan rumahnya, tapi kepercayaan pembelinya. Dan kepercayaan itu runtuh kalau informasi sejak awal tidak jujur dan tidak utuh,” ujarnya kepada Berita BeliRumah.co dalam percakapan singkat.
Pengalaman Gatot di lapangan menunjukkan bahwa keraguan calon pembeli muncul dari berbagai faktor yang saling terkait. Mulai dari kondisi rumah yang hampir selalu memiliki kekurangan, kesiapan dana yang belum matang, hingga pengaruh lingkungan dan masukan orang sekitar yang membuat pembeli cenderung menunda keputusan.
Situasi ini semakin rumit ketika ekspektasi bertabrakan dengan realitas. Banyak pembeli datang dengan referensi dari portal properti online, namun bingung saat survei langsung. Gambar ideal yang terlihat di platform sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, lokasi berbeda dari bayangan awal, hingga spesifikasi dan harga yang tidak konsisten. Ketidakkonsistenan informasi ini tidak hanya menurunkan minat, tetapi juga menimbulkan rasa tidak percaya sejak awal.
Gatot menegaskan bahwa di era digital, peran agen properti tetap krusial dan tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi. Menurutnya, data bisa disajikan oleh sistem, tetapi rasa aman dan keyakinan pembeli lahir dari interaksi manusia. “Teknologi bisa menyajikan data, tapi rasa aman, intuisi, dan keyakinan pembeli tetap lahir dari interaksi manusia. Di situlah peran agen tidak bisa digantikan,” jelasnya.

Ir. Gatot Saharso, MM
Member Broker Century 21 Prima Group
Ia menambahkan bahwa pembeli tidak hanya membutuhkan banyak pilihan, tetapi juga arahan yang jelas. Terlalu banyak opsi bisa membingungkan, sementara pilihan yang terlalu sedikit berisiko tidak optimal. Idealnya, agen memberikan tiga hingga lima alternatif relevan, disertai insight jujur agar pembeli bisa mengambil keputusan dengan sadar. “Agen properti bukan sekadar pemasang listing. Tugas utama kami adalah menerjemahkan informasi agar pembeli berani mengambil keputusan dengan sadar,” tambahnya.
Kepercayaan pembeli, menurut Gatot, bisa dikenali dari perubahan perilaku. Ketika pembeli mulai menanyakan biaya secara detail, meminta simulasi KPR, melakukan showing lanjutan bersama anggota keluarga, hingga mengajukan penawaran, itu menjadi sinyal kesiapan mengambil keputusan.
Namun praktik listing ganda dengan klaim berbeda antar agen memiliki dampak ganda. Di satu sisi, pembeli mendapatkan variasi harga dan pelayanan. Di sisi lain, perbedaan informasi yang tidak terkelola dengan baik berpotensi membingungkan dan merusak kepercayaan.
Dalam praktiknya, KPR juga sering menjadi faktor penentu cepat atau gagalnya transaksi. Banyak pembeli belum memahami risiko sejak awal, mulai dari riwayat kredit, rasio cicilan, hingga kesiapan finansial jangka panjang. Gatot menekankan bahwa KPR bisa menjadi jembatan menuju kepemilikan rumah, tapi juga penghambat jika pembeli tidak dipersiapkan sejak awal.
Ia menyoroti bahwa industri properti digital masih kerap menyajikan informasi tidak utuh, terutama terkait perizinan dan legal standing. Jika agen hanya berfungsi sebagai pemasang listing, profesi ini akan kehilangan maknanya. “Nilai agen ada pada tanggung jawab, bukan pada jumlah iklan atau listing yang ditayangkan,” tegas Gatot.
Menurutnya, industri properti akan lebih sehat jika agen, platform, dan perbankan memiliki standar tanggung jawab yang jelas atas informasi yang disampaikan kepada konsumen. “Bukan sekadar menjual, tapi memastikan pembeli benar-benar paham risikonya,” pungkasnya.